Home » » Mahalnya Biaya Demokrasi

Mahalnya Biaya Demokrasi

Written By SIDIMPUAN ONLINE on Selasa, 12 Agustus 2014 | 21.04

Mencengangkan! Barangkali itu kata yang pantas untuk menggambarkan betapa mahalnya biaya demokrasi di Indonesia. Sebenarnya sudah jadi rahasia umum bahwa biaya untuk menjadi pemimpin, sebut saja menjadi gubernur di Indonesia sangat besar. Tapi saya tidak menduga biayanya bisa sampai milyaran. Oh My God!

Menonton Mata Najwa malam ini yang membahas tentang “membeli demokrasi” membuat mata saya terbelalak. Bagaimana tidak, untuk menjadi Gubernur di suatu daerah seorang calon mesti menyiapkan biaya milyaran. Berikut rincian biaya menurut narasumber di Mata Najwa.
1. Paket nekat sekitar 16 Miliar, ini adalah paket yang paling murah dan nekat. Biaya ini hanya untuk membayar saksi dan biaya akomodasi di suatu daerah pemilihan. Belum termasuk biaya spanduk dll.
2. Paket hemat sekitar 175 miliar. Paket ini untuk biaya saksi, akomodasi, spanduk, kaos, pamflet dll. Paket ini sudah terbilang lengkap tapi masih sederhana.
3. dan paket komplit biayanya 430 miliar. Paket ini sudah sangat lengkap. Dari spanduk, kaos, saksi, tim pemenangan, pokoknya semua sampai-sampai ada juga biaya “serangan fajar”. Luar biasa!

Berdasarkan fakta diatas, saya jadi bertanya darimana seorang calon gubernur mendapatkan uang sebanyak itu? menjual tanah? meminjam uang ke bank? atau bagaimana?
Melihat fakta diatas, ada konsekuensi yang harus dihadapi oleh seorang calon gubernur. Jika seorang calon gubernur berhasil memenangkan pertarungan, otomatis dia harus mengembalikan biaya pilkadanya yang sangat besar. Dan akibatnya pasti dia akan menggunakan segala cara untuk mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan. Bahkan cara-cara yang tidak halal pun akan dilakukan untuk mengembalikan modalnya. Makanya tidak heran, banyak mewabah kasus korupsi terjadi di daerah baik di eksekutif maupun legislatif. itu karena biaya politik yang sangat besar.
Bagaimana jika gagal? Ini lebih parah. Karena tidak bisa mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan, bisa-bisa seorang calon yang gagal ini jadi gila, bunuh diri, mengambil kembali barang yang sudah diberikan dari konsituen atau yang paling tidak masuk akal adalah menjual istri sendiri untuk menebus pinjaman yang sangat besar.
Dengan mahalnya biaya politik ini, bisa dipastikan negara ini tidak akan maju. Anggaran negara pasti akan selalu jebol karena banyaknya praktek korupsi yang terjadi. Bisa dipastikan pembangunan akan mandeg karena anggarannya selalu ditilep oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bisa dipastikan makin banyak jembatan yang runtuh karena uang untuk pembangunan sudah “disunat”. Bisa dipastikan pendidikan akan jalan ditempat karena biayanya sudah dikorupsi oleh koruptor.
Akhirnya, kita cuma bisa berharap agar pemimpin-pemimpin kita segera sadar. UU tentang Pemilu harus direvisi agar biaya politik tidak mahal. Harus ada terobosan agar biaya demokrasi tidak mahal. Dengan begitu kita bisa menyaksikan pesta demokrasi yang murah dan jauh dari money politik.
Salam Persahabatan.   Firdaus Muis / KOMPASIANA skalanews.com
gambar dari
Share this article :
 
Support : Creating Website | HPS | Mas Template
Copyright © 2014. SIDIMPUAN ONLINE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by SIDIMPUAN ONLINE
Proudly powered by Blogger